Jumat, 23 Oktober 2015

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN CTL TIPE KONSTRUKTIVIS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA TENTANG VOLUME BANGUN RUANG PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SDN 06 KEMBANG KERANG KECAMATAN AIKMEL LOMBOK TIMUR TAHUN PELAJARAN 2014/2015



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
         Pembelajaran dapat dikatakan sebagai hasil dari memori, kognisi dan metakognisi yang berpengaruh terhadap pemahaman. Hal inilah yang terjadi ketika seseorang sedang belajar, dan kondisi ini juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, karena belajar merupakan proses alamiah setiap orang. Menurut Wenger yang dikutip dalam buku model-model pengajaran dan pembelajaran, mengatakan bahwa pembelajaran merupakan bukanlah activitas, sesuatu yang dilakukan oleh seseorang ketika tidak melakukan activitas lain. Didalam melakukan pembelajaran tentunya berbagai macam model yang diterapkan dalam pembelajaran, salah satu model pembelajaran yang ada adalah Contextual Teaching and Learning (CTL).[1]
(Contextual Teaching and Learning) CTL merupakan model pembelajaran yang dilakukan dengan mengaitkan materi yang diajarkannya dengan situasi dunia siswa, model ini juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan komponen pembelajaran konstruktivisme (constructivism).[2]
Dalam pembelajaran Matematika siswa kelas V, ditekankan untuk memahami, meningkatkan hasil belajar siswa dan mengetahui serta menguasai kompetensi dengan baik. Adapun kompetensi yang dimaksud adalah siswa mampu memahami bentuk-bentuk Bangun Ruang. Siswa mampu memahami sifat-sifat Bangun Ruang. Siswa mampu meningkatkan hasil belajar mereka tentang Volume Bangun Ruang dan siswa mampu menguasai tata cara atau tekhnik mengatasi masalah dalam Bangun Ruang. Bahkan diharapkan siswa mampu mengenal tentang Bangun Ruang yang ada dikehidupan sehari-hari. Dari kompetensi yang ada di atas yang diharapakan siswa mampu memahaminya dengan baik untuk meningkatkan hasil belajar  Tentang Volume Bangun Ruang.  
  Melihat kondisi saat ini, siswa kelas V SDN 06 Kembang Kerang, kecamatan Aikmel, pemahaman yang dimiliki tentang Volume Bangun Ruang masih belum bisa menjabarkan rumus-rumus Volume dalam Bangun Ruang, sehingga hasil belajar mereka masih dibawah rata-rata. Hal ini harus diperhatikan oleh guru dalam membelajarkan siswanya agar mereka betul-betul memahaminya, agar hasil belajar meningkat. Kemudian, melihat kondisi sekarang, guru hanya menjelaskan siswa teori tentang Volume Bangun Ruang tetapi, tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja atau membuat bagaimana menjabarkan rumus-rumus Volume Bangun Ruang itu. Ini berarti bahwa kemungkinan pemahaman siswa tentang Volume Bangun Ruang hanya bersifat teori yang tidak bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman siswa yang hanya bersifat teori mengenai Volume Bangun Ruang akan berdanpak terhadap hasil belajar mereka dan tidak bisa dipraktikkan dalam kehidupannya, disebabkan oleh model pembelajaran yang diterapkan di depan kelas masih bersifat klasikal yaitu guru menyajikan, menjelaskan materi pembelajaran, bertanya, memberi contoh,  memberi catatan di depan kelas dan siswa duduk rapi, mendengarkan penjelasan, mencatat, menjawab pertanyaan. Akibatnya, siswa menjadi bosan, kurang minat dan motivasi belajarnya semakin menurun.
Dengan kondisi yang demikian, kalau dibiarkan, akan berdampak buruk terhadap hasil belajar siswa tentang Volume Bangun Ruang. Padahal, pemahaman tentang Volume Bangun Ruang, akan membantu siswa meningkatkan hasil belajarnya dan dalam menghubungkan pengetahuannya dengan dunia nyata mereka, akan memudahkan mereka mengenal dan memahami Volume Bangun Ruang yang ada disekitarnya. Apalagi mengenai Volume Bangun Ruang sangat dekat dengan kehidupan siswa.  Hal ini menjadi salah satu tujuan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Dengan melihat permasalahan yang ada, maka salah satu alternatif  untuk pemecahan masalah di atas dengan menerapkan model pembelajaran CTL (Contextual Teachinng and Learning) Tipe Konstruktivisme yang merupakan model pembelajaran yang dilakukan dengan mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia siswa dan membutuhkan keterampilan siswa dalam membentuk, membuat dan menjabarkan tentang materi yang diajarkan yang merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang yaitu dengan membentuk skema, konsep, kategori yang dikonstruksikan dari pengalamannya. Dengan CTL (Contextual Teaching and Learning) siswa akan terampil dalam membentuk, membuat dan menyajikan hasil konstruksi yang dimilikinya yang akan membuat mereka semangat, termotivasi  dan siswa akan lebih aktif dan kreatif.
Berdasarkan uraian di atas, hal inilah yang menarik dan penting untuk dilakukan penelitian. Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul,  “Penggunaan Model Pembelajaran CTL (Contextual Teaching Learning Learning) Tipe Konstruktivisme untuk  Meningkatkan hasil belajar siswa tentang Volume Bangun Ruang pada Mata Pelajaran Matematika Kelas V SDN 06 Kembang Kerang Kecamatan Aikmel  Lombok Timur Tahun Pelajaran 2014/2015”.

B. Sasaran Tindakan
Sasaran tindakan penelitian ini adalah Siswa Kelas V SDN 06 Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel Lombok Timur, yang terdiri dari 25 siswa yaitu laki-laki 10 orang dan perempuan 15 orang.


C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,  rumusan masalah yang didapat dalam penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa tentang volume bangun ruang pada mata pelajaran Matematika di kelas V SDN 06 Kembang Kerang Kecamatan Aikmel Lombok Timur Tahun Pelajaran 2014/2015 melalui penggunaan model CTL (Contextual Teaching ang Learning) tipe Konstruktivisme.
D.    Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang volume bangun ruang pada mata pelajaran Matematika di kelas V SDN 06 Kembang Kerang kecamatan Aikmel Lombok Timur Tahun Pelajaran 2014/2015 melalui penggunaan model CTL (Contextual Teaching and Learning) tipe Konstruktivisme.
E.  Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini terdiri atas manfaat teoretis dan manfaat praktis. Untuk lebih jelasnya, diuraikan sebagai berikut.
1.      Manfaat Teoretis  
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan dapat dijadikan sebagai acuan bagi peneliti berikutnya.


2.      Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi siswa, guru, dan sekolah. Untuk lebih jelasnya, dapat dijelaskan sebagai berikut.
a.       Manfaat bagi Siswa
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan solidaritas siswa dalam mengembangkan wawasannya
b.      Manfaat bagi Guru
Penelitian ini diharapkan dapat sebagai sumber informasi dan referensi dalam pengembangan Penelitian Tindakan Kelas dan menumbuhkan budaya meneliti agar terjadi inovasi pembelajaran.
c.       Manfaat bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi sekolah untuk memperbaiki praktik-praktik pembelajaran guru agar menjadi lebih efektif dan efisien sehingga kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa meningkat.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Tinjauan tentang Belajar dan pembelajaran
1.      Pengertian Belajar dan Pembelajaran
“Belajar merupakan suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalamannya.”[3] Menurut Wina senjaya dikutip dalam buku pengembangan bahan ajar tematik, “bahwa belajar adalah suatu proses aktivitas mental seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersiftat positif”.[4] 
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses tidak terlihat yang dilakukan oleh mental seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya, yang menimbulkan perubahan pada dirinya.
“Pembelajaran merupakan aktivitas yang diciptakan berdasarkan pemahaman terhadap tindakan-tindakan belajar pada masing-masing individu”.[5] Menurut Willian H. Burton dikutip dalam buku Konsep dan Makna Pembelajaran, “bahwa pembelajaran merupakan upaya memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar.”[6]
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, pembelajaran adalah suatu proses berfikir, mengembangkan potensi yang dimilikinya, sehingga menimbulkan suasana belajar yang kondusip dan menyenangkan.
2.      Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Pembelajaran
“Ada beberapa factor yang dapat berpengaruh terhadap pembelajaran, diantaranya yaitu: factor guru, factor siswa, sarana, alat dan media dan factor lingkungan.”[7]
a.       Factor Guru
Guru merupakan komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran.[8]
b.      Factor Siswa
Siswa merupakan organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya.[9]
c.       Factor Sarana dan Prasarana
Sarana merupakan segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran.[10]
d.      Factor Lingkungan
Lingkungan merupakan terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran yaitu factor organisasi dan factor iklim social-psikologis.[11]
3.      Komponen-komponen Pembelajaran
“Pembelajaran terdiri atas beberapa komponen yang satu dengan yang lainnya saling berinteraksi dan berinterelasi. Komponen-komponen tersebut adalah: tujuan, materi pelajaran, metode atau strategi pembelajaran, media dan evaluasi”.[12]
a.       Tujuan
Tujuan merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan.[13]
b.      Evaluasi
Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan.[14]
c.       Metode /strtegi
Metode/strtegi merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya /kekuatan dalam pembelajaran.[15]
d.      Materi ajar
Materi merupakan salah satu sumber belajar yang berisi pesan dalam bentuk konsep, prinsip, definsi, gugus isi atau konteks, data maupun fakta, proses, nilai, kemampuan, dan keterampilan.[16]
e.       Media
Menurut Abdul Karim dalam buku Media Pembelajaran, mengatakan bahwa, Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.[17]
B.     Tinjauan tentang Hasil Belajar
1.      Pengertian Hasil Belajar
“Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya”.[18] “Menurut UNESCO ada empat pilar hasil belajar yang diharapkan dapat dacapai oleh pendidikan, yaitu: learning to know, learning to be, learning to life together, dan  learning to do”.[19]
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah bagian terpenting dalam pembelajaran dan merupakan suatu hasil nyata yang dicapai oleh siswa dalam pembelajaran dengan membawa suatu perubahan yang positif terhadap dirinya baik dari segi berfikirnya, emosionalnya dan sikap tingkah lakunya. Belajar dapat dikatakan berhasil dalam proses pembelajaran apabila tujuan pembelajaran bisa tercapai.  
2.      Klasifikasi Hasil Belajar
Kemampuan masing-masing siswa dalam suatu mata pelajaran dapat diklasifikasikan atau disesuaikan dengan yaitu:[20]
a.       kemampuan kognitif
merupakan merangsang kemampuan berfikir, kemampuan memproleh pengetahuan, kemampuan yang berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan pengenalan, pemahaman,penentuan dan penalaran.
b.      kemampuan afektif
Merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat, penerimaan dan penolakan dari suatu obyek.
c.       kemampuan psikomotorik
Merupakan kemampuan melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota badan, dan kemampuan yang berkaitan dengan gerak fisik, seperti praktik, demonstrasi dari sebuah materi pelajaran.
C.    Tinjauan tentang Pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Leraning)
1.      Pengertian Pembelajaran CTL
CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan  kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.[21]

“CTL merupakan sebuah proses pendidikan yang membantu siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka.”[22]
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, CTL (Contextaul Teaching and Learning) itu, dalam proses penerapannya dalam pembelajaran, siswa tidak hanya sekedar mengikuti pembelajaran dari awal sampai selesai dengan mendengar saja, tetapi didalam CTL siswa akan menemukan sendiri materi yang dijarkan dengan proses belajarnya diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung dan dengan materi yang didapat siswa akan mampu mengaitkan pangalamannya disekolah dengan kehidupannya sehari-hari.



2.      Tujuan Pembelajaran CTL
“Tujuan pembelajaran ini adalah membekali siswa berupa pengetahuan dan kemampuan (skill) yang lebih realitas, karena inti pembelajaran ini adalah mendekatkan hal-hal yang teoretis ke praktis”.[23]
Menurut ilmu psikologi dikutip dalam buku Contextual Teaching and Learning, mengatakan bahwa tujuan utama “CTL adalah membantu para siswa dengan cara yang tepat untuk mengaitkan makna pada pelajaran akademik mereka”.[24]
Berdasarkan uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran CTL akan melatih siswa untuk terampil dalam menyajikan, menemukan dan menghubungkan materi dengan kenyataan yang ada, sehingga siswa akan mampu mengaplikasikannya langsung didalam kehidupannya, dengan pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki akan menyiapkan diri mereka untuk bisa mengembangkan pengetahuannya.
3.      Prinsip Pembelajaran CTL
Dari beberapa definsi CTL, ada tiga prinsip yang layak diperhatikan adalah pertama, belajar menghasilkan perubahan prilaku anak yang relative permanen. Kedua, anak didik memilki potensi dan kemampuan untuk ditumbuh kembangkan tanpa henti.  Ketiga, perubahan atau pencapaian kualitas ideal tidak tumbuh alami sejalan dengan proses kehidupan.[25]

4.      Komponen-komponen  pembelajaran CTL
komponen-komponen utama pembelajaran afektif dalam CTL yaitu  pertama, konstruktivisme (construktivisme), bertanya (question), menemukan (inquiri), masyarakar belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflektion), penilaian sebenarnya (authentic assessment).[26]

Berdasarkan komponen-komponen di atas dapat dijelaskan sebagai berikut yakni:[27]
a.       Konstruktivisme (constructivisme)
Merupakan landasan berfikir dengan pendekatan CTL, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba.
b.      Bertanya (question)
Merupakan strategi pertama pembelajaran yang berbasis kontekstual.
c.       Menemukan (inquiri)
Merupakan bagian dari inti dari kegiatan pembelajaran dengan pengetahuan dan keterampilan yang diproleh bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta , tetapi juga hasil dari menemukan sendiri.
d.      Masyarakat belajar (learning community)
Merupakan hasil yang diproleh hasil dari kerja sama antar tema, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu
e.       Pemodelan (modeling)
Merupakan sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan yang bisa ditru yang memberikan peluang yang besar bagi guru membri contoh cara mengerjakan sesuatu tentang bagaimana belajar.
f.        Refleksi (Reflection)
Merupakan cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir tentang apa yang sudah dilakukan dalam hal belajar di masa yang lalu.
g.      Penilaian sebenarnya (authentic assessment)
Merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa membrikan gambaran perkembangan belajar siswa.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen yang terdapat dalam CTL akan memberikan kemudahan dalam membelajarkan siswa, dimana dalam CTL terdapat tujuh komponen yaitu: konstruktivisme (Constructivisme), bertanya (Questionong), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflektion) dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment). Ketujuh komponen ini dijelaskan bagaimana penerapan dan teori-teori CTL dan tujuan yang dituju dengan komponen-komponen yang lebih dikhususkan, agar lebih mudah dalam mengaplikasian model CTL (Contextual Teaching and Learning) tersebut.
5.      Kelebihan dan kekurangan pembelajaran  CTL
Keunggulan dan kelemahan Model CTL (Contextual Teaching and Learning), dapat diuraikan sebagai berikut: keunggulan dari pembelajaran Kontekstual adalah: (1).  Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil, (2). Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri, (3). Kontekstual adalah pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental, (4). Materi pelajaran dapat ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil pemberian dari guru, (5). Penerapan pembelajaran Kontekstual dapat menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna. Dan  kelemahan dari CTL adalah : (1). Diperlukan waktu yang cukup lama saat proses pembelajaran Kontekstual berlangsung, (2). Jika guru tidak dapat mengendalikan kelas maka dapat menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif, (3). Guru lebih intensif dalam membimbing, (4). Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar.[28]

6.      Model-model pembelajaran CTL
Menurut Depdiknas dikutip dalam buku, Pengembangan Bahan Ajar Tematik, bahwa Pembalajaran berbasis Kontextual terdiri atas tiga model yaitu : (1). Sintaks model pembelajaran DI (direct instruction), (2). Sintaks model pembelajaran CL (cooperative lesrning), (3). Sintaks model PBI (problem Based Learning).[29]



7.      Model Pembelajaran CTL Tipe Konstruktivisme
a.      Pengertian
 “Konstruktivisme merupakan landasan berfikir dalam CTL yang merupakan pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedkit dan hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas”.[30] “konstruktivisme merupakan proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.”[31]
Berdasarka uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Konstruktivisme merupakan proses yang dilakukan untuk membangun pengetahuan siswa dengan menghubungkan dengan pengetahuan baru yang diterima, sehingga siswa mampu memilih dan memilah pengetahuan yang akan direspon dan pengetahuan yang tidak direspon atau pengetahuan yang harus dipertahankan pada dirinya dan pengetahuan yang harus dijauhkan dari dirinya. Dengan Konstruktivisme ini siswa akan lebih krtis, aktif dan kreatif serta terampil dan menyajikan temuannya sendiri.



b.      Langkah- langkah pembelajaran
Adapun langkah-langkah pembelajaran dalam konstruktivisme adalah sebagai berikut:[32]
1.      Identifikasi Tujuan
Merupakan akan member arah dalam merancang program, implementasi program dan evaluasi.
2.      Menetapkan Isi Produk Belajar
Dengan menetapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang harus dikuasai siswa.
3.      Identifikasi dan Klarisifikasi Pengetahuan Awal Siswa
Merupakan identifikasi pengetahuan awal siswa dilakukan dengan tes awal, dan peta konsep.
4.      Identifikasi dan Klarifikasi Miskonsepsi Siswa
Merupakan pengetahuan awal siswa yang telah di identifikasi perlu dianalisis untuk menetapkan mana yang sesuai dengan konsepsi dan mana yang miskonsepsi.
5.      Prencanaan Program
Pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran dan Strategi pengubahan konsep diujudkan dalam bentuk modul.
6.      Implementasi Program
Merupakan kegiatan actual dalam kelas.
7.      Evaluasi
Merupakan langkah terhadap efectivitas model belajar yang telah dilakukan.

Adapun ciri-ciri pembelajaran Konstruktivisme adalah sebagai berikut: (1). Memberi peluang kepada siswa membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya, (2). Menyelesaikan soalan yang dimunculkan oleh siswa dan dijadikan sebagai panduan merancang pengajaran, (3). Menyokong pembelajaran secara kooperatif, (4). Menerima daya usaha siswa, (5). Memberikan siswa bertanya dan berdialog dengan murid dan guru, (6). Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran

Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah :(1). Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, (2). Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar, (3). Murid aktif megkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah, (4). Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar, (5). Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa, (6). Mencari dan menilai pendapat siswa.

c.  Kelebihan dan kelemahan konstruktivisme

     Kelebihan tipe Konstruktivisme
(1).  Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya, (2). Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa, (3). Pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat, (4). Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar, (5). Pembelajaran konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
Kekurangan tipe Konstruktivisme
(1). Siswa membangun pengetahuan mereka sendiri, tidak jarang bahwa konstruksi siswa tidak cocok dengan pembangunan ilmuwan yang menyebabkan kesalahpahaman, (2). Konstruktivisme pengetahuan kita menanamkan bahwa siswa membangun sendiri, hal ini pasti memakan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda.
D.    Tinjauan tentang Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
1.      Konsep Dasar Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
Menurut Soedjadi dikutip dalam buku “Model Pembelajaran Matematika” mengatakan bahwa, “Matematika merupakan ilmu yang bertumpu pada kesepakatan dan pola fikir yang deduktif”.[33]  “Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia”.[34]
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Matematika adalah ilmu pasti yang membutuhkan kekeritisan berfikir dan menganalisa suatu materi pelajaran. Ilmu Matematika berperan penting dalam kehidupan dan sangatlah dekat dengan lingkungan serta perkembangan tekhnologi dan dalam menganalisa suatu data. Dalam ilmu Matematika bukan hanya sekedar menghitung, tetapi dengan Matematika,  akan membangkitkan semangat belajar siswa dengan  masalah yang disajikan untuk dipecahkan serta menemukan langkah-langkah yang tepat untuk memecahkan suatu masalah.   
2.      Tujuan Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
Mata pelajaran Matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :[35]
a.       Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah
b.      Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
c.       Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
d.      Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan dan masalah
e.       Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

3.      Ruang Lingkup Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
Mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa  (SDLB-D) meliputi aspek-aspek sebagai berikut: (1). Bilangan, (2). Geometri dan Pengukuran, (3). Pengolahan Data”.[36]
4.      Standart Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
Standart Kompetensi
Kompetensi Dasar
1.      Menghitung volume bangun Ruang  dan mengunakannya dalam pemecahan masalah
4.1    Menghitung volume kubus dan balok

4.2    Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan volume kubus dan balok.[37]


KD (kompetensi Dasar) merupakan pengethuan, ketrampilan dan sikap minimal yang harus dicapai oleh siswa untuk menunjukkan bahwa siswa telah menguasai standar kompetensi yang telah ditetapkan.[38] SK (Standar kompetensi) merupakan diskripsi pengetahuan, keterampilan, sikap yang harus dikuasai setelah siswa mempelajari mata pelajaran tertentu pada jenjang pendidikan tertentu pula.[39]


BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Setting Penelitian
Setting penelitian ini adalah SDN 06 Kembang Kerang, yaitu di kelas V yang jumlah siswanya 25 orang. Lokasi ini diambil dapat bekerja sama dengan guru Matematika di SDN 06 Kembang Kerang sehingga memudahkan peneliti dalam mencari data, peluang, waktu yang luas, dan subyek penelitian yang sangat sesuai dengan profesi peneliti.
B.     Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian merupakan suatu objek penelitian tindakan kelas yang merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai activitas, bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak.[40]
Adapun sasaran penelitian ini adalah:
1.      Faktor siswa, yaitu meningkatkan hasil belajar siswa kelas V dalam menyelesaikan soal-soal Volume Bangun Ruang pada mata pelajaran Matematika melalui penerapan model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) tipe Konstruktivisme (constructivsme) berupa tes evaluasi.
2.      Proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yaitu bagaimana interaksi antara siswa dengan siswa atau guru dengan guru dalam proses belajar mengajar yang berupa hasil observase aktivitas siswa.
C.    Rencana Tindakan
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). PTK merupakan  suatu bentuk kajian reflektif oleh pelaku tindakan dan PTK dilakukan untuk meningkatakan kemampuan guru dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilkukan dan memperbaiki kondisi praktik-praktik pembelajaran yang telah dilkukan.[41] PTK juga menggunakan data pengamatan langsung terhadap jalannya model pembelajaran yang akan digunakan untuk menyampaikan materi volume bangun ruang di kelas. Data tersebut dianalisis melalui beberapa tahapan dalam siklus-siklus tindakan yang terdiri dari 4 tahap yaitu, (1). Perencanaan, (2). Pelaksanaan dan observasi, (3). Evaluasi, dan (4). Refleksi. Adapun bentuk spiral kerja tindakan dari siklus ke siklus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.





Gambar 1
Model Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK).[42]
Pelaksanaan
Perencanaan
                                                           

SIKLUS 1
Refleksi
Pengamatan
                                                               Pengamatan
Pelaksanaan
Perencanaan
                                   
                                                             
                                                SIKLUS II

Pengamatan
Refleksi
 


1.      Siklus 1
a.       Tahapan perencanaan tindakan
Dalam tahapan ini hal-hal yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan scenario (rencana) pembelajaran dengan Model Pembelajaran CTL (Contextuan Teaching and Learning).
2.      Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa dan guru.
3.      Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS).
4.      Membuat evaluasi yakni, berupa tes tertulis untuk mengetahui hasil belajar siswa.
b.      Tahap pelaksanaan tindakan dan observasi
pada tahap ini, peneliti mengimplementasikan atau menerapkan apa yang telah disusun pada tahap perencanaan, yaitu melaksanakan tindakan di kelas. Observasi atau pengamatan dilaksanakan bersamaan atau saat proses pembelajaran sesuai dengan format pembelajaran yang telah disusun, semua aktivitas siswa dan guru yang tampak dicatat di lembar observasi.
c.       Tahap Evaluasi
Pada tahap ini peneliti dan guru memberikan tes evaluasi berupa tes tulis kepada siswa pada setiap akhir siklus. Tes ini dikerjakan secara individual untuk mengetahui pemahaman siswa setelah belajar konsep volume bangun ruang dengan menggunakan model CTL (Contextual Teaching and Learning) tipe Konstruktivisme.
d.      Refleksi
Refleksi dilakukan setelaah observasi dan evaluasi dilakukan sebagai acuan. Pada tahap ini guru dan siswa mengkaji hasil yang diproleh dan pemberian tindakan pada siklus awal. Hasil refleksi ini dijadikan sebagai dasar untuk menyempurnakan serta memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada tahap berikutnya.
2.      Siklus II
Hasil refleksi analisis data pada siklus I digunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus II, dengan memperbaiki kelemahan-kelemahan pada siklus I.
D.    Jenis Instrumen dan Cara Penggunaannya
Instrument pengumpulan data merupakan alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data penelitian. Adapun dalam penelitian ini data yang diambil dengan menggunakan 2 instrumen yaitu:
1.      Observasi
Menurut Mahmud dikutif dalam buku Metode Penelitian Pendidikan  mengatakan bahwa, Observasi merupakan.[43] Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi untuk mengamati keterlaksanaan proses pembelajaran, yaitu aktivitas guru dan siswa. Lembar observasi akan diberikan kepada seorang observer sebelum proses belajar berlangsung. Kemudian observer mengisi lembar observer tersebut pada saat proses belajar berlangsung. Adapun kegiatan siswa yang akan menjadi acuan dalam lembar observasi adalah:

a.       Kesiapan siswa dalam menerima materi pembelajaran
b.      antusiasme siswa mengikuti pembelajaran
c.       Kerja sama siswa dalam kelompok diskusi
d.      Aktivitas siswa dalam mengerjakan LKS
e.       Interaksi siswa dengan guru selama proses pembelajaran
f.       Aktivitas siswa dalam menyimpulkan hasil pembelajaran  
2.      Tes
Tes merupakan rangkaian pertanyaan atau alat lain digunakan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimilki oleh individu atau kelompok.[44] Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes formatif berbentuk essay atau uraian. Tes dalam bentuk essay diyakini mampu mengembangkan kreativitas siswa dalam menemukan sendiri solusi dalam mengatasi masalah yang ada.
Tes digunakan untuk mengumpulkan data mengenai hasil belajar siswa pada pokok bahasan volume bangun ruang. Jenis tes yang digunakan adalah post tes yaitu tes yang dilaksanakan setelah  diadakan tindakan. Adapun kisi-kisi soal tes dengan menerapkan model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) tipe Konstruktivisme (construktivisme), pada mata pelajaran Matematika sub materi Volume Bangun Ruang dapat dilihat pada table 1.
Table 1
Kisi-Kisi Soal Evaluasi dengan Menggunakan Model Pembelajaran CTL Tipe Konstruktivisme pada pelajaran Matematika sub materi Volume Bangun Ruang
No.
Siklus
Submateri
Indicator
Nomor soal
1.
I
Nama-nama bangun Ruang dan sifat-sifatnya
1)       Mengenal bentuk-bentuk bangun ruang dengan tepat
2)      Menyebutkan sifat-sifat bangun ruang
3)      Menjelaskan sifat-sifat bangun ruang
4)      Terampil membuat bentuk bangun Ruang
1

2

3

4
2.
II
Menghitung Volume Bangun Ruang
1)      Mengenal Rumus Volume dalam Bangun Ruang
2)      Menjabarkan Rumus Volume Bangun Ruang
3)      Menyesuaikan Rumus dengan masalah dihadapi
4)      Menerapkan Rumus Volume Bangun Ruang dengan tepat dan pasti
1

2

3

4

E.     Pelaksanaan Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan selama bulan juli s.d Agustus 2014 di kelas V SDN 06 Kembang Kerang.
F.     Cara Pengamatan (Monitoring)
Pengamatan dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Pengamatan dilakukan secara kolaburasi dengan teman sejawat menggunkan lembar observasi yang telah disiapkan. Adapun yang diamati adalah bagaimana pelaksanaan tindakan, bagaimana guru menyajikan pelajaran, dan bagaimana sikap siswa dalam belajar, dan apakah proses pembelajaran sudah sesuai dengan skenario yang dibuat.
G.    Analisis Data dan Refleksi
1.      Analisis Data
a.       Data Tes Hasil Belajar Siswa
Data tes hasil belajar siswa adalah jumlah skor pada sejumlah butir THB  (Tes Hasil Belajar) yang digunakan untuk mengukur dan dikatakan tuntas secara individu pada proses belajar mengajar apabila siswa mendapat nilai ≥ 60.[45] Dan ketuntasan secara klasikal dikatakan telah tercapai apabila ketercapaian > 80%  dari jumlah siswa dalam kelas tersebut. Hal ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Kk =  x 100
Keterangan :
Kk = ketuntasan klasikal
f  = frekuensi
n = jumlah siswa
 Setelah memperoleh data tes hasil belajar siswa, data tersebut dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif yang prosesnya sebagai berikut:
1.      Pengumpulan Data yaitu dilakukan untuk memberikan skor atas jawaban siswa pada setiap butir, kemudian menjumlahkan untuk semua butir. Hal ini dapat dihitung sebagai berikut:
S = Skor
R = Jumlah jawaban benar
W = Jumlah jawaban salah
N = Jumlah pilihan jawaban


2.      Penyajian data
Penyajian data hasil belajar dilakukan dengan menggunakan table distribusi frekuensi tergolong.  
Contoh :
Data siswa
Frekuensi
60 – 69
5
70 – 79
6
80 – 89
8
90 – 100
6
Jumlah
25

Dari tabel diskriftif frekuensi ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan yaitu sebagai berikut: Kelas (k) adalah golongan-golongan data dalam table.
a.       Batasan kelas adalah nilai yang membatasi kelas, yang terdiri dari batas atas kelas dan batas bawah kelas.
b.      Interval kelas (i) adalah jarak antara batas atas kelas dan batas bawah kelas, dengan mengurangi batas atas kelas dengan batas bawah kelas.
c.       Rentang (R) adalah selisih antara data tertinggi dengan data terendah.
d.      Titik tengah (Xi) adalah nilai tengah antara batas atas dan batas bawah .
3.      Pengolahan data
Pengolahan data hasil belajar hanya memerlukan ukuran tendensi sentral berupa mean (M) dan berupa simpangan standar Deviasi (SD). Dapat dihitung dengan rumus sebai berikut:
Menentukan Mean (M) atau nilai rata-rata
 
Keterangan :
X = mean (rata-rata)
Fi = frekuensi
Xi = nilai tengah

SD (standar deviasi)
 
Keterangan :
SD = standar deviasi
Fi = frekuensi
Xi = nilai tengah
X = Mean[46]
b.      Data aktivitas siswa
1.      Menentukan rata-rata skor aktivitas belajar siswa dengan menggunakan rumus :
Keterangan :
A      = Rata-rata skor aktivitas belajar siswa
      = Total skor aktivitas belajar seluruh siswa
       n    = Banyak indikator
2.      Data tentang aktivitas belajar siswa dianalisi secara deskriptif kualitatif. Indikator tentang aktivitas belajar siswa yang diamati adalah sebanyak 6 indikator  dan setiap indikator memiliki 3 deskriptor. Adapun cara pensekoran sebagai berikut:
a)      Skor 1 diberikan jika  X ≤ 25 %
b)      Skor 2 diberikan jika 25% < X ≤ 50 %
c)      Skor 3 diberikan jika 50 % < X ≤ 75 %
d)     Skor 4 diberiksn jika X > 75 %
Keterangan: X = jumlah siswa dalam kelas yang cukup aktif melakukan kegiatan menurut descriptor.  
3.      Menentukan Rentang Nilai
Membagi  SD  dan K = 2,8 (ketetapan)
Rentang Skor  =  x 1,2 SD
Contoh  =  x 1,2 = 1,2 SD
Table 2
No.
Rentang Skor
Nilai
Kategori
1.
K  + 1,2 SD
 A
Sangat aktif
2.
K  + 0,9 SD  Sampai K + 1,05 SD
B
Aktif
3.
K +  0,6 SD  Sampai K + 0,75 SD
C
Cukup aktif
4.
K  -  0, 3 SD Sampai K + 0,42 SD
D
Kurang aktif
5
< 2,5 SD
E
Sangat kurang aktif

4.      Refleksi
Refleksi dilakukan pada tahap akhir siklus. Pada tahap ini peneliti, guru, dan teman sejawat mengkaji pelaksanaan dan hasil yang diperoleh dalam pemberian tindakan tiap siklus. Refleksi dilakukan dari data kualitatif sebagai dasar untuk memperbaiki serta menyempurnakan tindakan pada siklus berikutnya.  
H.    Indikator Penelitian
Adapun yang menjadi indikator dalam penelitian ini dikatakan berhasil adalah apabila:
1.      Aktivitas siswa minimal berkategori cukup aktif
2.      Tercapai kelulusan hasil belajar siswa dengan ketentuan, minimal 45% siswa memperoleh nilai ≥ 50.












Lampiran I
LEMBAR KERJA SISWA
Submateri        : Volume Bangun Ruang
Tujuan             : Siswa dapat mengenal nama-nama bangun ruang dan bentuknya serta  mampu menentukan volume-volume pada bangun ruang tersebut.
Lanagkah kerja:
1.      Perhatikan gambar bangun-bangun ruang berikut!
 

                                           
              Gambar I                           Gambar II                                   Gambar III
2.      Tentukan nama-nama tersebut diatas dan sebutkan sifat-sifatnya!
3.      Tentukan volume-volume dari bangun diatas apabila :
a.                Tabung memiliki tinggi 20 dan luas alasnya: 80..??
b.       
c.                  Kubus memiliki sisi 10?
d.       

             Tabung memiliki panjang: 8, lebar: 6 dan tinggi; 5?
4.      Tulislah hasil kerja kalian dan peresentasikan di depan kelas

                            
Lampiaran II
LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS GURU
Petunjuk pengisian: Berikan (√ ) untuk setiap descriptor yang Nampak
Cara penilaian:
BS (Baik Sekali)         : Jika semua (3) deskriptor yang nampak
B (Baik)                      : Jika (2) descriptor yang nampak
C (Cukup)                   : Jika (1) descriptor yang nampak
K (Kurang)                  : Jika (0) tidak ada descriptor yang nampak

No

INDIKATOR/DESKRIPTOR

Ya

Tidak
Penilaian
BS
B
C
K
1.
Perencanaan dan persiapan penyelenggaraan pembelajaran







a.    Membuat skenario pembelajaran



b.   Menyiapkan tes/soal untuk identifkasi pengetahuan awal siswa


c.    Mengecek kehadiran siswa


2.
Pemberian motivasi dan apersepsi kepada siswa







a. Menyampaikan pokok dan tujuan pembelajaran




b. Memberikan apersepsi kepada siswa



c.   Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau menjawab pertanyaan guru yang berkaitan dengan apersepsi


3.
Pengaturan kegiatan kelompok







a.    Membentuk kelompok kecil untuk berdiskusi




b.   Menjelaskan tugas dan batasan waktu kegiatan tes



c.    Membagikan LKS


4.
Membimbing siswa dalam kegiatan diskusi kelompok







a.    Mendatangi setiap kelompok untuk memfasilitasi kegiatan




b.   Mengarahkan kegiatan diskusi dan memberikan masukan terhadap kegiatan diskusi



c.    Membimbing siswa mempersiapkan hasil diskusi


5.
Pemberian umpan balik terhadap hasil diskusi siswa







a.    Meminta salah satu siswa menyampaikan hasil diskusinya




b.   Memberikan siswa lain menanggapi dan bertanya



c.    Memberikan komentar terhadap hasil diskuinya


6.
Mengahiri/menutup pelajaran







a.    Melakukan Tanya jawab dengan siswa untuk menarik kesimpulan dari materi yang telah dipelajari




b.   Menginformasikan materi pelajaran yang akan dibahas minggu berikutnya



c.    Meminta siswa untuk mempelajari materi yang telah diberikan



Komentar / saran :




                                                                                                Hari /tanggal,
                                                                                                   Observer

Lampiran 3
LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS SISWA
Petunjuk pengisian : berilah tanda (√ ) untuk skor yang diproleh tiap descriptor.
Cara pebgisian :
Skor 1 diberikan jika X ≤ 25 %
Skor 2 diberikan jiks 25 % < X  ≤ 50 %
Skor 3 diberikan jika 50 % < X ≤ 75 %
Skor 4 diberikan jika X > 75 %
Keterangan: X = jumlah siswa dalam kelas yang aktif melakukan kegiatan descriptor

No

INDIKATOR/DESKRIPTOR
SKOR
Rata-rata
1
2
3
4
1.
Kesiapan siswa menerima materi pelajaran

a.    Siswa masuk tepat waktu
b.   Siswa membawa buku pelajaran yang relevan dengan materi
c.    Siswa duduk dengan rapi













2.
Antusias siswa mengikuti pembelajaran

a.       Siswa memperhatikan pelajaran dengan seksama selama proses pembelajaran
b.      Siswa mencatat poin penting dalam materi pelajaran
c.       Siswa tidak mengerjakan pekerjaan lainnya















3.
Kerja secara individual


a.    Adanya pembagian tugas individu
b.   Melakukan Tanya jawab dan komunikasi antar individu
c.    Melakukan Refleksi terhadap tugas yang diberikan















4.
Aktivitas siswa dalam mengerjakan LKS


a.    Mengerjakan LKS sesuai dengan permasalahan yang diberikan
b.   Mengerjakan LKS dan perintah dengan teliti
c.    Mengerjakan semua item LKS sampai selesai















5.
Interaksi siswa dengan guru 


a.  Memperhatikan penjelasan guru pada saat membimbing
b.Melakukan Tanya jawab atau mengemukakan pendapat pada saat diberikan bimbingan oleh guru
c.  Melakukan Tanya jawab dengan guru untuk menyimpulkan hasil belajar















6.
Aktivitas siswa dalam menyimpulkan hasil pembelajaran


a.    Menyimpulkan hasil dengan baik
b.   Menanggapi atau menanyakan hal yang kurang jelas
c.    Memperbaiki kekeliruan temannya dalam menjawab















Jumlah skor indikator

Criteria


Komentar / saran :


                                                                  Hari / tanggal,
     
Observer

DAFTAR PUSTAKA
Nana sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004

Wina senjaya. Pembelajaran dalam implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Kencana Media Group, 2005.
 ..  .Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Bandung: Kencana Prenada Media, 2006.
    .          . Perencanaan dan Desain Pembelajaran. Bandung : Kencana Prenada Media Group, 2008.
. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:  Prenada Media Gorup, 2010
Kendiknas. Permen No. 22, Tahun 2006 tentang Standar isi. Jakarta: Kemendiknas, 2006.
Chaedar Alwasilah. Contextual Teaching and Learning. Bandung: MLC, 2007
Suharsimi Arikunto, dkk. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara. 2009
Purwanto. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Puastaka Belaja. 2011
Tim Pengembang MKDP.  Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Kencana Prenada Media Gorup, 2011
Mahmud. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia. 2011
Martinis yamin dkk.  Manajemen Pembelajaran Kelas. Jakarta: GP Press, 2012.
Syaiful Sagala.  konsep dan Makna  Pembelajaran. Bandung : Alfabeta, 2012.

Rusman. Model-model Pembelajaran. Bandung: PT. RajaGrafindo, 2012.
Heruman, Model Pembelajaran Matematika, (Bandung : PT. Rosdakarya), 2013
Adi Prastowo.  Pengembangan Bahan Ajar Tematik. yogyajarakta: Diva Press, 2013.
Miftahul Huda.  Model-model Pengajaran dan Pembelajaran.  Malang: Pustaka Pelajar,  2014. 

Tim Dosen PGMI. Pembelajaran KewarganegaraanMI. Mataram : IAIN, 2014.


Alvazghany, “Model pembelajaran Konstruktivisme”, dalam http://konstruktivisme3fmatematika.blogspot.com/2012/12/menerapkanmetode-pembelajaran.html diambil tanggal 09 Desember 2014, pukul 10.16



[1] Miftahul Huda, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran, (Malang: Pustaka Pelajar, 2014), h. 2
[2] Adi Prastowo, Pengembangan Bahan Ajar Tematik, (Yogyakarta: Diva Press, 2013), h. 85  
[3] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung : Alfabeta, 2012), h. 13
[4] Prastowo, Pengembangan…….., h. 49.
[5] ibid, h. 66.
[6]Syaiful, Konsep………., h. 61.
[7] Wina Senjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Bandung: Kencana Prenada Media Gorup, 2010), h. 197
[8] Ibid, h. 197.
[9] Ibid, h. 199.
[10] Ibid, h. 200.
[11] Ibid, h. 201.
[12] Wina senjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Bandung: Kencana Prenada Media, 2006), h. 58
[13] Tim Pengembang MKDP, Kurikulum dan Pembelajaran, (Bandung : Rajawali Pers, 2011), h. 48
[14] Ibid, h. 56.
[15]  Ibid, h. 53.
[16] Tim Dosen PGMI, Pembelajaran KewarganegaraanMI, (Mataram : IAIN, 2014), h. 42
[17] Ibid, h. 108
[18] Nana sudjana, Penilaian Hasil Belajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), h. 22
[19] Tim Pengembang, Kurikulum…………, h. 140.
[20] Martinis yamin dkk, Manajemen Pembelajaran Kelas, (Jakarta: GP Press, 2012), h. 76
[21] Wina senjaya, Pembelajaran dalam implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: Kencana Media Group, 2005), h. 109
[22] Elaine B. Jonhson, Contextual Teaching and Learning, (Bandung : MLC, 2007), h. 67
[23] Prastowo, Pengembangan………, h. 85.
[24] Jonhson, Contextual………., h. 64.
[25] Ibid, h.18.
[26] Prastowo, Pengembangan………, h. 85.
[27] Syaiful, konsep…………….., h. 87.
[29] Prastowo, Pengembangan………., h. 86.
[30] Rusman, Model-model Pembelajaran, (Bandung: PT. RajaGrafindo, 2012 ), h. 193
[31] Wina, Pembelajaran…………….., h. 118.
[32] Alvazghany, “Model pembelajaran Konstruktivisme”, dalam http://konstruktivisme3fmatematika.blogspot.com/2012/12/menerapkanmetode-pembelajaran.html diambil tanggal 09 Desember 2014, pukul 10.16
[33] Heruman, Model Pembelajaran Matematika, (Bandung : PT. Rosdakarya),2013, h. 1
[34] Kendiknas, Permen No. 22, Tahun 2006 tentang Standar isi, (Jakarta: Kemendiknas, 2006), h. 458
[35] Ibid, h. 459
[36] Ibid, h. 459.
[37] Ibid, h. 467.
[38] Wina senjaya, Perencanaan dan Desain Pembelajaran, (Bandung : Kencana Prenada Media Group, 2008), h. 56
[39] Ibid, h. 56
[40] Suharsimi Arikunto, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2009), h. 24
[41] sukidin, dkk, Manajemen Penelitian Tindakn Kelas, (Surabaya : Insan Cendekia , 2007), h. 16.
[42] Suharsimi, penelitian………….,h. 16
[43] Mahmud,  Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), h. 168
[44] Ibid, h. 185.
[45]  Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Puastaka Belajar, 2011), h. 192
[46] Ibid, h. 202.

Tidak ada komentar: