BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pembelajaran dapat dikatakan sebagai
hasil dari memori, kognisi dan metakognisi yang berpengaruh terhadap pemahaman.
Hal inilah yang terjadi ketika seseorang sedang belajar, dan kondisi ini juga
sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, karena belajar merupakan proses
alamiah setiap orang. Menurut Wenger
yang dikutip dalam buku model-model
pengajaran dan pembelajaran, mengatakan bahwa pembelajaran merupakan
bukanlah activitas, sesuatu yang dilakukan oleh seseorang ketika tidak
melakukan activitas lain. Didalam melakukan pembelajaran tentunya berbagai
macam model yang diterapkan dalam
pembelajaran, salah satu model pembelajaran yang ada adalah Contextual Teaching
and Learning (CTL).[1]
(Contextual
Teaching and Learning) CTL merupakan model pembelajaran yang dilakukan
dengan mengaitkan materi yang diajarkannya dengan situasi dunia siswa, model
ini juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan komponen
pembelajaran konstruktivisme (constructivism).[2]
Dalam pembelajaran Matematika siswa kelas V,
ditekankan untuk memahami, meningkatkan hasil belajar siswa dan mengetahui
serta menguasai kompetensi dengan baik. Adapun kompetensi yang dimaksud adalah siswa
mampu memahami bentuk-bentuk Bangun Ruang. Siswa mampu memahami sifat-sifat
Bangun Ruang. Siswa mampu meningkatkan hasil belajar mereka tentang Volume
Bangun Ruang dan siswa mampu menguasai tata cara atau tekhnik mengatasi masalah
dalam Bangun Ruang. Bahkan diharapkan siswa mampu mengenal tentang Bangun Ruang
yang ada dikehidupan sehari-hari. Dari kompetensi yang ada di atas yang
diharapakan siswa mampu memahaminya dengan baik untuk meningkatkan hasil
belajar Tentang Volume Bangun Ruang.
Melihat
kondisi saat ini, siswa kelas V SDN 06 Kembang Kerang, kecamatan Aikmel,
pemahaman yang dimiliki tentang Volume Bangun Ruang masih belum bisa menjabarkan
rumus-rumus Volume dalam Bangun Ruang, sehingga hasil belajar mereka masih
dibawah rata-rata. Hal ini harus diperhatikan oleh guru dalam membelajarkan
siswanya agar mereka betul-betul memahaminya, agar hasil belajar meningkat.
Kemudian, melihat kondisi sekarang, guru hanya menjelaskan siswa teori tentang Volume
Bangun Ruang tetapi, tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja atau
membuat bagaimana menjabarkan rumus-rumus Volume Bangun Ruang itu. Ini berarti
bahwa kemungkinan pemahaman siswa tentang Volume Bangun Ruang hanya bersifat
teori yang tidak bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman siswa yang hanya bersifat teori mengenai Volume
Bangun Ruang akan berdanpak terhadap hasil belajar mereka dan tidak bisa dipraktikkan
dalam kehidupannya, disebabkan oleh model pembelajaran yang diterapkan di depan
kelas masih bersifat klasikal yaitu guru menyajikan, menjelaskan materi
pembelajaran, bertanya, memberi contoh, memberi catatan di depan kelas dan siswa duduk
rapi, mendengarkan penjelasan, mencatat, menjawab pertanyaan. Akibatnya, siswa
menjadi bosan, kurang minat dan motivasi belajarnya semakin menurun.
Dengan kondisi yang demikian, kalau dibiarkan, akan
berdampak buruk terhadap hasil belajar siswa tentang Volume Bangun Ruang. Padahal,
pemahaman tentang Volume Bangun Ruang, akan membantu siswa meningkatkan hasil
belajarnya dan dalam menghubungkan pengetahuannya dengan dunia nyata mereka,
akan memudahkan mereka mengenal dan memahami Volume Bangun Ruang yang ada
disekitarnya. Apalagi mengenai Volume Bangun Ruang sangat dekat dengan
kehidupan siswa. Hal ini menjadi salah
satu tujuan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Dengan melihat permasalahan yang ada, maka salah
satu alternatif untuk pemecahan masalah
di atas dengan menerapkan model pembelajaran CTL (Contextual Teachinng and Learning) Tipe Konstruktivisme yang
merupakan model pembelajaran yang dilakukan dengan mengaitkan materi yang
diajarkan dengan situasi dunia siswa dan membutuhkan keterampilan siswa dalam
membentuk, membuat dan menjabarkan tentang materi yang diajarkan yang merupakan
akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang
yaitu dengan membentuk skema, konsep, kategori yang dikonstruksikan dari
pengalamannya. Dengan CTL (Contextual
Teaching and Learning) siswa akan terampil dalam membentuk, membuat dan
menyajikan hasil konstruksi yang dimilikinya yang akan membuat mereka semangat,
termotivasi dan siswa akan lebih aktif
dan kreatif.
Berdasarkan uraian di atas, hal inilah yang menarik
dan penting untuk dilakukan penelitian. Oleh karena itu, peneliti mengangkat
judul, “Penggunaan Model Pembelajaran CTL (Contextual
Teaching Learning Learning) Tipe Konstruktivisme untuk Meningkatkan hasil belajar siswa tentang Volume
Bangun Ruang pada Mata Pelajaran Matematika Kelas V SDN 06 Kembang Kerang
Kecamatan Aikmel Lombok Timur Tahun
Pelajaran 2014/2015”.
B.
Sasaran Tindakan
Sasaran tindakan penelitian ini adalah Siswa Kelas V
SDN 06 Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel Lombok Timur, yang terdiri dari 25
siswa yaitu laki-laki 10 orang dan perempuan 15 orang.
C.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang didapat dalam penelitian
ini adalah bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa tentang volume bangun
ruang pada mata pelajaran Matematika di kelas V SDN 06 Kembang Kerang Kecamatan
Aikmel Lombok Timur Tahun Pelajaran 2014/2015 melalui penggunaan model CTL (Contextual Teaching ang Learning) tipe
Konstruktivisme.
D.
Tujuan
Penelitian
Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil
belajar siswa tentang volume bangun ruang pada mata pelajaran Matematika di
kelas V SDN 06 Kembang Kerang kecamatan Aikmel Lombok Timur Tahun Pelajaran
2014/2015 melalui penggunaan model CTL (Contextual
Teaching and Learning) tipe Konstruktivisme.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini terdiri atas manfaat teoretis
dan manfaat praktis. Untuk lebih jelasnya, diuraikan sebagai berikut.
1. Manfaat
Teoretis
Penelitian
ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan dapat dijadikan
sebagai acuan bagi peneliti berikutnya.
2. Manfaat
Praktis
Secara
praktis, penelitian ini bermanfaat bagi siswa, guru, dan sekolah. Untuk lebih
jelasnya, dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Manfaat
bagi Siswa
Penelitian ini
diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan solidaritas siswa dalam
mengembangkan wawasannya
b. Manfaat
bagi Guru
Penelitian ini
diharapkan dapat sebagai sumber informasi dan referensi dalam pengembangan
Penelitian Tindakan Kelas dan menumbuhkan budaya meneliti agar terjadi inovasi
pembelajaran.
c. Manfaat
bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat
dijadikan bahan masukan bagi sekolah untuk memperbaiki praktik-praktik
pembelajaran guru agar menjadi lebih efektif dan efisien sehingga kualitas
pembelajaran dan hasil belajar siswa meningkat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan tentang Belajar dan
pembelajaran
1.
Pengertian
Belajar dan Pembelajaran
“Belajar merupakan suatu proses dimana suatu
organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalamannya.”[3] Menurut
Wina senjaya dikutip dalam buku pengembangan
bahan ajar tematik, “bahwa belajar adalah suatu proses aktivitas mental
seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga menghasilkan
perubahan tingkah laku yang bersiftat positif”.[4]
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan
bahwa belajar adalah suatu proses tidak terlihat yang dilakukan oleh mental
seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya, yang menimbulkan perubahan
pada dirinya.
“Pembelajaran merupakan aktivitas yang diciptakan
berdasarkan pemahaman terhadap tindakan-tindakan belajar pada masing-masing
individu”.[5]
Menurut Willian H. Burton dikutip dalam buku Konsep dan Makna Pembelajaran, “bahwa pembelajaran merupakan upaya
memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar
terjadi proses belajar.”[6]
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa, pembelajaran adalah suatu proses berfikir, mengembangkan potensi yang
dimilikinya, sehingga menimbulkan suasana belajar yang kondusip dan
menyenangkan.
2.
Faktor-faktor
yang Berpengaruh Terhadap Pembelajaran
“Ada beberapa factor yang dapat berpengaruh terhadap
pembelajaran, diantaranya yaitu: factor guru, factor siswa, sarana, alat dan
media dan factor lingkungan.”[7]
a. Factor
Guru
Guru merupakan komponen
yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran.[8]
b. Factor
Siswa
Siswa merupakan
organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya.[9]
c. Factor
Sarana dan Prasarana
Sarana merupakan segala
sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran.[10]
d. Factor
Lingkungan
Lingkungan merupakan
terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran yaitu factor
organisasi dan factor iklim social-psikologis.[11]
3.
Komponen-komponen
Pembelajaran
“Pembelajaran terdiri atas beberapa komponen yang
satu dengan yang lainnya saling berinteraksi dan berinterelasi.
Komponen-komponen tersebut adalah: tujuan, materi pelajaran, metode atau
strategi pembelajaran, media dan evaluasi”.[12]
a. Tujuan
Tujuan merupakan bagian
dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus
dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam
bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan.[13]
b. Evaluasi
Evaluasi merupakan komponen
untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan.[14]
c. Metode
/strtegi
Metode/strtegi merupakan
rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan
pemanfaatan berbagai sumber daya /kekuatan dalam pembelajaran.[15]
d. Materi
ajar
Materi merupakan salah
satu sumber belajar yang berisi pesan dalam bentuk konsep, prinsip, definsi,
gugus isi atau konteks, data maupun fakta, proses, nilai, kemampuan, dan
keterampilan.[16]
e. Media
Menurut Abdul Karim
dalam buku Media Pembelajaran, mengatakan bahwa, Media adalah perantara atau
pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.[17]
B.
Tinjauan
tentang Hasil Belajar
1.
Pengertian
Hasil Belajar
“Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa
setelah menerima pengalaman belajarnya”.[18] “Menurut
UNESCO ada empat pilar hasil belajar yang diharapkan dapat dacapai oleh
pendidikan, yaitu: learning to know,
learning to be, learning to life together, dan learning to do”.[19]
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
hasil belajar adalah bagian terpenting dalam pembelajaran dan merupakan suatu
hasil nyata yang dicapai oleh siswa dalam pembelajaran dengan membawa suatu
perubahan yang positif terhadap dirinya baik dari segi berfikirnya,
emosionalnya dan sikap tingkah lakunya. Belajar dapat dikatakan berhasil dalam
proses pembelajaran apabila tujuan pembelajaran bisa tercapai.
2.
Klasifikasi
Hasil Belajar
Kemampuan masing-masing siswa dalam suatu mata
pelajaran dapat diklasifikasikan atau disesuaikan dengan yaitu:[20]
a. kemampuan
kognitif
merupakan merangsang
kemampuan berfikir, kemampuan memproleh pengetahuan, kemampuan yang berkaitan
dengan pemerolehan pengetahuan pengenalan, pemahaman,penentuan dan penalaran.
b. kemampuan
afektif
Merupakan kemampuan
yang berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat, penerimaan dan penolakan
dari suatu obyek.
c. kemampuan
psikomotorik
Merupakan kemampuan
melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota badan, dan kemampuan yang
berkaitan dengan gerak fisik, seperti praktik, demonstrasi dari sebuah materi
pelajaran.
C.
Tinjauan
tentang Pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Leraning)
1.
Pengertian
Pembelajaran CTL
CTL (Contextual
Teaching and Learning) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang
menekankan kepada proses keterlibatan
siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan
dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat
menerapkannya dalam kehidupan mereka.[21]
“CTL merupakan sebuah
proses pendidikan yang membantu siswa melihat makna di dalam materi akademik
yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan dengan konteks dalam kehidupan
keseharian mereka.”[22]
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa,
CTL (Contextaul Teaching and Learning) itu, dalam proses penerapannya dalam
pembelajaran, siswa tidak hanya sekedar mengikuti pembelajaran dari awal sampai
selesai dengan mendengar saja, tetapi didalam CTL siswa akan menemukan sendiri
materi yang dijarkan dengan proses belajarnya diorientasikan pada proses
pengalaman secara langsung dan dengan materi yang didapat siswa akan mampu
mengaitkan pangalamannya disekolah dengan kehidupannya sehari-hari.
2.
Tujuan
Pembelajaran CTL
“Tujuan pembelajaran ini adalah
membekali siswa berupa pengetahuan dan kemampuan (skill) yang lebih realitas, karena inti pembelajaran ini adalah
mendekatkan hal-hal yang teoretis ke praktis”.[23]
Menurut ilmu psikologi dikutip dalam
buku Contextual Teaching and Learning, mengatakan
bahwa tujuan utama “CTL adalah membantu para siswa dengan cara yang tepat untuk
mengaitkan makna pada pelajaran akademik mereka”.[24]
Berdasarkan uaraian di atas dapat
disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran CTL akan melatih siswa untuk terampil
dalam menyajikan, menemukan dan menghubungkan materi dengan kenyataan yang ada,
sehingga siswa akan mampu mengaplikasikannya langsung didalam kehidupannya,
dengan pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki akan menyiapkan diri mereka
untuk bisa mengembangkan pengetahuannya.
3.
Prinsip
Pembelajaran CTL
Dari beberapa definsi CTL, ada tiga
prinsip yang layak diperhatikan adalah pertama,
belajar menghasilkan perubahan prilaku anak yang relative permanen. Kedua, anak didik memilki potensi dan
kemampuan untuk ditumbuh kembangkan tanpa henti. Ketiga, perubahan atau
pencapaian kualitas ideal tidak tumbuh alami sejalan dengan proses kehidupan.[25]
4.
Komponen-komponen
pembelajaran CTL
komponen-komponen utama pembelajaran
afektif dalam CTL yaitu pertama, konstruktivisme (construktivisme), bertanya (question), menemukan (inquiri), masyarakar belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflektion), penilaian sebenarnya (authentic assessment).[26]
Berdasarkan
komponen-komponen di atas dapat dijelaskan sebagai berikut yakni:[27]
a. Konstruktivisme
(constructivisme)
Merupakan landasan
berfikir dengan pendekatan CTL, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi
sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan
tiba-tiba.
b. Bertanya
(question)
Merupakan strategi
pertama pembelajaran yang berbasis kontekstual.
c. Menemukan
(inquiri)
Merupakan bagian dari
inti dari kegiatan pembelajaran dengan pengetahuan dan keterampilan yang
diproleh bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta , tetapi juga hasil dari
menemukan sendiri.
d.
Masyarakat belajar (learning community)
Merupakan hasil yang
diproleh hasil dari kerja sama antar tema, antar kelompok, dan antar yang tahu
ke yang belum tahu
e.
Pemodelan (modeling)
Merupakan sebuah
pembelajaran keterampilan atau pengetahuan yang bisa ditru yang memberikan
peluang yang besar bagi guru membri contoh cara mengerjakan sesuatu tentang
bagaimana belajar.
f.
Refleksi (Reflection)
Merupakan cara berfikir
tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir tentang apa yang sudah dilakukan
dalam hal belajar di masa yang lalu.
g.
Penilaian sebenarnya (authentic assessment)
Merupakan proses
pengumpulan berbagai data yang bisa membrikan gambaran perkembangan belajar
siswa.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen
yang terdapat dalam CTL akan memberikan kemudahan dalam membelajarkan siswa,
dimana dalam CTL terdapat tujuh komponen yaitu: konstruktivisme (Constructivisme), bertanya (Questionong), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflektion) dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment). Ketujuh komponen
ini dijelaskan bagaimana penerapan dan teori-teori CTL dan tujuan yang dituju
dengan komponen-komponen yang lebih dikhususkan, agar lebih mudah dalam
mengaplikasian model CTL (Contextual
Teaching and Learning) tersebut.
5.
Kelebihan
dan kekurangan pembelajaran CTL
Keunggulan dan kelemahan Model CTL (Contextual Teaching and Learning), dapat
diuraikan sebagai berikut: keunggulan dari pembelajaran Kontekstual adalah:
(1). Pembelajaran menjadi lebih bermakna
dan riil, (2). Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan
konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran
konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya
sendiri, (3). Kontekstual adalah pembelajaran yang menekankan pada aktivitas
siswa secara penuh, baik fisik maupun mental, (4). Materi pelajaran dapat
ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil pemberian dari guru, (5). Penerapan
pembelajaran Kontekstual dapat menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna. Dan
kelemahan dari CTL adalah : (1).
Diperlukan waktu yang cukup lama saat proses pembelajaran Kontekstual
berlangsung, (2). Jika guru tidak dapat mengendalikan kelas maka dapat
menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif, (3). Guru lebih intensif dalam
membimbing, (4). Guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan
menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk
belajar.[28]
6.
Model-model
pembelajaran CTL
Menurut Depdiknas dikutip dalam buku, Pengembangan Bahan Ajar Tematik, bahwa
Pembalajaran berbasis Kontextual terdiri atas tiga model yaitu : (1). Sintaks
model pembelajaran DI (direct
instruction), (2). Sintaks model pembelajaran CL (cooperative lesrning), (3). Sintaks model PBI (problem Based Learning).[29]
7.
Model
Pembelajaran CTL Tipe Konstruktivisme
a.
Pengertian
“Konstruktivisme
merupakan landasan berfikir dalam CTL yang merupakan pengetahuan dibangun oleh
manusia sedikit demi sedkit dan hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas”.[30]
“konstruktivisme merupakan proses membangun atau menyusun pengetahuan baru
dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.”[31]
Berdasarka uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa Konstruktivisme merupakan proses yang dilakukan untuk
membangun pengetahuan siswa dengan menghubungkan dengan pengetahuan baru yang
diterima, sehingga siswa mampu memilih dan memilah pengetahuan yang akan
direspon dan pengetahuan yang tidak direspon atau pengetahuan yang harus
dipertahankan pada dirinya dan pengetahuan yang harus dijauhkan dari dirinya.
Dengan Konstruktivisme ini siswa akan lebih krtis, aktif dan kreatif serta
terampil dan menyajikan temuannya sendiri.
b. Langkah-
langkah pembelajaran
Adapun
langkah-langkah pembelajaran dalam konstruktivisme adalah sebagai berikut:[32]
1.
Identifikasi
Tujuan
Merupakan akan member arah dalam
merancang program, implementasi program dan evaluasi.
2.
Menetapkan
Isi Produk Belajar
Dengan menetapkan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip yang harus dikuasai siswa.
3.
Identifikasi
dan Klarisifikasi Pengetahuan Awal Siswa
Merupakan identifikasi pengetahuan awal
siswa dilakukan dengan tes awal, dan peta konsep.
4.
Identifikasi
dan Klarifikasi Miskonsepsi Siswa
Merupakan pengetahuan awal siswa yang
telah di identifikasi perlu dianalisis untuk menetapkan mana yang sesuai dengan
konsepsi dan mana yang miskonsepsi.
5.
Prencanaan
Program
Pembelajaran dijabarkan dalam bentuk
satuan pelajaran dan Strategi pengubahan konsep diujudkan dalam bentuk modul.
6.
Implementasi
Program
Merupakan kegiatan actual dalam kelas.
7.
Evaluasi
Merupakan langkah terhadap efectivitas
model belajar yang telah dilakukan.
Adapun ciri-ciri pembelajaran
Konstruktivisme adalah sebagai berikut: (1). Memberi peluang kepada siswa
membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya, (2). Menyelesaikan
soalan yang dimunculkan oleh siswa dan dijadikan sebagai panduan merancang
pengajaran, (3). Menyokong pembelajaran secara kooperatif, (4). Menerima daya
usaha siswa, (5). Memberikan siswa bertanya dan berdialog dengan murid dan guru,
(6). Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan
hasil pembelajaran
Secara garis
besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar
adalah :(1). Pengetahuan
dibangun oleh siswa sendiri,
(2). Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya
dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar, (3). Murid aktif megkonstruksi secara terus
menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah, (4). Guru sekedar
membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar, (5). Menghadapi masalah
yang relevan dengan siswa,
(6). Mencari dan menilai pendapat siswa.
c.
Kelebihan dan kelemahan konstruktivisme
Kelebihan tipe Konstruktivisme
(1). Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan
secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan
temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya, (2). Pembelajaran
berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan
yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan
awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan
memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk
membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa, (3). Pembelajaran
konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir
tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif,
mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada
saat yang tepat, (4). Pembelajaran
berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba
gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan
menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal maupun yang baru dan
akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar, (5). Pembelajaran
konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan
gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa
untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
Kekurangan
tipe
Konstruktivisme
(1). Siswa membangun pengetahuan
mereka sendiri, tidak jarang bahwa konstruksi siswa tidak cocok dengan
pembangunan ilmuwan yang menyebabkan kesalahpahaman, (2). Konstruktivisme
pengetahuan kita menanamkan bahwa siswa membangun sendiri, hal ini pasti
memakan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda.
D.
Tinjauan
tentang Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
1.
Konsep
Dasar Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
Menurut Soedjadi dikutip dalam buku “Model Pembelajaran Matematika” mengatakan
bahwa, “Matematika merupakan ilmu yang bertumpu pada kesepakatan dan pola fikir
yang deduktif”.[33]
“Matematika merupakan ilmu universal
yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam
berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia”.[34]
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
Matematika adalah ilmu pasti yang membutuhkan kekeritisan berfikir dan menganalisa
suatu materi pelajaran. Ilmu Matematika berperan penting dalam kehidupan dan
sangatlah dekat dengan lingkungan serta perkembangan tekhnologi dan dalam
menganalisa suatu data. Dalam ilmu Matematika bukan hanya
sekedar menghitung, tetapi dengan Matematika,
akan membangkitkan semangat belajar siswa dengan masalah yang disajikan untuk dipecahkan serta
menemukan langkah-langkah yang tepat untuk memecahkan suatu masalah.
2.
Tujuan
Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
Mata pelajaran Matematika bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :[35]
a.
Memahami
konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan
konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan
masalah
b.
Menggunakan
penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat
generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika
c.
Memecahkan
masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika,
menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
d.
Mengkomunikasikan
gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas
keadaan dan masalah
e.
Memiliki
sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin
tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan
percaya diri dalam pemecahan masalah.
3.
Ruang Lingkup
Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
“Mata
pelajaran matematika pada satuan pendidikan Sekolah Dasar Luar Biasa
Tunadaksa (SDLB-D) meliputi aspek-aspek
sebagai berikut: (1). Bilangan, (2). Geometri dan Pengukuran, (3). Pengolahan Data”.[36]
4.
Standart
Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika di SD/MI
|
Standart Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
|
1. Menghitung volume bangun Ruang dan mengunakannya dalam pemecahan masalah
|
4.1
Menghitung volume
kubus dan balok
4.2
Menyelesaikan
masalah yang berkaitan dengan volume kubus dan balok.[37]
|
KD (kompetensi Dasar) merupakan pengethuan,
ketrampilan dan sikap minimal yang harus dicapai oleh siswa untuk menunjukkan bahwa
siswa telah menguasai standar kompetensi yang telah ditetapkan.[38] SK
(Standar kompetensi) merupakan diskripsi pengetahuan, keterampilan, sikap yang
harus dikuasai setelah siswa mempelajari mata pelajaran tertentu pada jenjang
pendidikan tertentu pula.[39]
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Setting
Penelitian
Setting penelitian ini adalah SDN 06 Kembang Kerang,
yaitu di kelas V yang jumlah siswanya 25 orang. Lokasi ini diambil dapat
bekerja sama dengan guru Matematika di SDN 06 Kembang Kerang sehingga
memudahkan peneliti dalam mencari data, peluang, waktu yang luas, dan subyek
penelitian yang sangat sesuai dengan profesi peneliti.
B.
Sasaran
Penelitian
Sasaran penelitian merupakan suatu objek penelitian
tindakan kelas yang merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai activitas,
bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak.[40]
Adapun sasaran penelitian ini adalah:
1. Faktor
siswa, yaitu meningkatkan hasil belajar siswa kelas V dalam menyelesaikan
soal-soal Volume Bangun Ruang pada mata pelajaran Matematika melalui penerapan
model pembelajaran CTL (Contextual
Teaching and Learning) tipe Konstruktivisme (constructivsme) berupa tes evaluasi.
2. Proses
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yaitu bagaimana interaksi antara siswa
dengan siswa atau guru dengan guru dalam proses belajar mengajar yang berupa
hasil observase aktivitas siswa.
C.
Rencana
Tindakan
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas
(PTK). PTK merupakan suatu bentuk kajian
reflektif oleh pelaku tindakan dan PTK dilakukan untuk meningkatakan kemampuan guru
dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang
dilkukan dan memperbaiki kondisi praktik-praktik pembelajaran yang telah
dilkukan.[41]
PTK juga menggunakan data pengamatan langsung terhadap jalannya model
pembelajaran yang akan digunakan untuk menyampaikan materi volume bangun ruang
di kelas. Data tersebut dianalisis melalui beberapa tahapan dalam siklus-siklus
tindakan yang terdiri dari 4 tahap yaitu, (1). Perencanaan, (2). Pelaksanaan
dan observasi, (3). Evaluasi, dan (4). Refleksi. Adapun bentuk spiral kerja
tindakan dari siklus ke siklus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Gambar
1
Model
Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK).[42]
|
Pelaksanaan
|
|
Perencanaan
|
SIKLUS 1
|
Refleksi
|
|
Pengamatan
|
|
Pelaksanaan
|
|
Perencanaan
|
SIKLUS
II
|
Pengamatan
|
|
Refleksi
|
1. Siklus 1
a. Tahapan
perencanaan tindakan
Dalam tahapan ini hal-hal yang dilakukan
oleh peneliti adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan
scenario (rencana) pembelajaran dengan Model Pembelajaran CTL (Contextuan Teaching and Learning).
2. Menyiapkan
lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa dan guru.
3. Menyiapkan
lembar kerja siswa (LKS).
4. Membuat
evaluasi yakni, berupa tes tertulis untuk mengetahui hasil belajar siswa.
b. Tahap
pelaksanaan tindakan dan observasi
pada tahap ini,
peneliti mengimplementasikan atau menerapkan apa yang telah disusun pada tahap
perencanaan, yaitu melaksanakan tindakan di kelas. Observasi atau pengamatan
dilaksanakan bersamaan atau saat proses pembelajaran sesuai dengan format
pembelajaran yang telah disusun, semua aktivitas siswa dan guru yang tampak
dicatat di lembar observasi.
c. Tahap
Evaluasi
Pada tahap ini peneliti
dan guru memberikan tes evaluasi berupa tes tulis kepada siswa pada setiap
akhir siklus. Tes ini dikerjakan secara individual untuk mengetahui pemahaman
siswa setelah belajar konsep volume bangun ruang dengan menggunakan model CTL (Contextual Teaching and Learning) tipe
Konstruktivisme.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan
setelaah observasi dan evaluasi dilakukan sebagai acuan. Pada tahap ini guru
dan siswa mengkaji hasil yang diproleh dan pemberian tindakan pada siklus awal.
Hasil refleksi ini dijadikan sebagai dasar untuk menyempurnakan serta
memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada tahap berikutnya.
2. Siklus II
Hasil refleksi analisis
data pada siklus I digunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus II, dengan
memperbaiki kelemahan-kelemahan pada siklus I.
D.
Jenis
Instrumen dan Cara Penggunaannya
Instrument
pengumpulan data merupakan alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk
mengumpulkan data penelitian. Adapun dalam penelitian ini data yang diambil
dengan menggunakan 2 instrumen yaitu:
1. Observasi
Menurut Mahmud dikutif
dalam buku Metode Penelitian Pendidikan mengatakan bahwa, Observasi merupakan.[43] Observasi
dilakukan dengan menggunakan lembar observasi untuk mengamati keterlaksanaan
proses pembelajaran, yaitu aktivitas guru dan siswa. Lembar observasi akan
diberikan kepada seorang observer sebelum proses belajar berlangsung. Kemudian
observer mengisi lembar observer tersebut pada saat proses belajar berlangsung.
Adapun kegiatan siswa yang akan menjadi acuan dalam lembar observasi adalah:
a. Kesiapan
siswa dalam menerima materi pembelajaran
b. antusiasme
siswa mengikuti pembelajaran
c. Kerja
sama siswa dalam kelompok diskusi
d. Aktivitas
siswa dalam mengerjakan LKS
e. Interaksi
siswa dengan guru selama proses pembelajaran
f. Aktivitas
siswa dalam menyimpulkan hasil pembelajaran
2. Tes
Tes
merupakan rangkaian pertanyaan atau alat lain digunakan yang digunakan untuk mengukur
keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimilki oleh
individu atau kelompok.[44] Tes
yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes formatif berbentuk essay atau
uraian. Tes dalam bentuk essay diyakini mampu mengembangkan kreativitas siswa
dalam menemukan sendiri solusi dalam mengatasi masalah yang ada.
Tes
digunakan untuk mengumpulkan data mengenai hasil belajar siswa pada pokok
bahasan volume bangun ruang. Jenis tes yang digunakan adalah post tes yaitu tes
yang dilaksanakan setelah diadakan
tindakan. Adapun kisi-kisi soal tes dengan menerapkan model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) tipe
Konstruktivisme (construktivisme),
pada mata pelajaran Matematika sub materi Volume Bangun Ruang dapat dilihat
pada table 1.
Table
1
Kisi-Kisi Soal
Evaluasi dengan Menggunakan Model Pembelajaran CTL Tipe Konstruktivisme pada
pelajaran Matematika sub materi Volume Bangun Ruang
|
No.
|
Siklus
|
Submateri
|
Indicator
|
Nomor
soal
|
|
1.
|
I
|
Nama-nama
bangun Ruang dan sifat-sifatnya
|
1) Mengenal bentuk-bentuk bangun ruang dengan
tepat
2) Menyebutkan
sifat-sifat bangun ruang
3) Menjelaskan
sifat-sifat bangun ruang
4) Terampil
membuat bentuk bangun Ruang
|
1
2
3
4
|
|
2.
|
II
|
Menghitung
Volume Bangun Ruang
|
1) Mengenal
Rumus Volume dalam Bangun Ruang
2) Menjabarkan
Rumus Volume Bangun Ruang
3) Menyesuaikan
Rumus dengan masalah dihadapi
4) Menerapkan
Rumus Volume Bangun Ruang dengan tepat dan pasti
|
1
2
3
4
|
E.
Pelaksanaan
Tindakan
Penelitian
ini dilaksanakan selama bulan juli s.d Agustus 2014 di kelas V SDN 06 Kembang
Kerang.
F.
Cara
Pengamatan (Monitoring)
Pengamatan
dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Pengamatan dilakukan
secara kolaburasi dengan teman sejawat menggunkan lembar observasi yang telah
disiapkan. Adapun yang diamati adalah bagaimana pelaksanaan tindakan, bagaimana
guru menyajikan pelajaran, dan bagaimana sikap siswa dalam belajar, dan apakah
proses pembelajaran sudah sesuai dengan skenario yang dibuat.
G.
Analisis
Data dan Refleksi
1.
Analisis
Data
a. Data
Tes Hasil Belajar Siswa
Data tes hasil belajar
siswa adalah jumlah skor pada sejumlah butir THB (Tes Hasil Belajar) yang digunakan untuk
mengukur dan dikatakan tuntas secara individu pada proses belajar mengajar
apabila siswa mendapat nilai ≥ 60.[45] Dan
ketuntasan secara klasikal dikatakan telah tercapai apabila ketercapaian >
80% dari jumlah siswa dalam kelas
tersebut. Hal ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Kk
=
x
100
Keterangan :
Kk = ketuntasan
klasikal
f = frekuensi
n = jumlah siswa
Setelah memperoleh data tes hasil belajar
siswa, data tersebut dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik
deskriptif yang prosesnya sebagai berikut:
1. Pengumpulan
Data yaitu dilakukan untuk memberikan skor atas jawaban siswa pada setiap
butir, kemudian menjumlahkan untuk semua butir. Hal ini dapat dihitung sebagai
berikut:
S = Skor
R = Jumlah jawaban
benar
W = Jumlah jawaban
salah
N = Jumlah pilihan
jawaban
2. Penyajian
data
Penyajian data hasil
belajar dilakukan dengan menggunakan table distribusi frekuensi tergolong.
Contoh :
|
Data siswa
|
Frekuensi
|
|
60
– 69
|
5
|
|
70
– 79
|
6
|
|
80
– 89
|
8
|
|
90
– 100
|
6
|
|
Jumlah
|
25
|
Dari tabel diskriftif
frekuensi ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan yaitu sebagai berikut: Kelas
(k) adalah golongan-golongan data dalam table.
a. Batasan
kelas adalah nilai yang membatasi kelas, yang terdiri dari batas atas kelas dan
batas bawah kelas.
b. Interval
kelas (i) adalah jarak antara batas atas kelas dan batas bawah kelas, dengan
mengurangi batas atas kelas dengan batas bawah kelas.
c. Rentang
(R) adalah selisih antara data tertinggi dengan data terendah.
d. Titik
tengah (Xi) adalah nilai tengah antara batas atas dan batas bawah .
3. Pengolahan
data
Pengolahan data hasil belajar hanya
memerlukan ukuran tendensi sentral berupa mean (M) dan berupa simpangan standar
Deviasi (SD). Dapat dihitung dengan rumus sebai berikut:
Menentukan
Mean (M) atau nilai rata-rata
Keterangan :
X
= mean (rata-rata)
Fi = frekuensi
Xi = nilai tengah
SD
(standar deviasi)
Keterangan :
SD = standar deviasi
Fi = frekuensi
Xi = nilai tengah
X
= Mean[46]
b. Data
aktivitas siswa
1. Menentukan
rata-rata skor aktivitas belajar siswa dengan menggunakan rumus :
Keterangan
:
A
= Rata-rata skor aktivitas belajar siswa
= Total skor aktivitas belajar seluruh siswa
n = Banyak indikator
2. Data
tentang aktivitas belajar siswa dianalisi secara deskriptif kualitatif.
Indikator tentang aktivitas belajar siswa yang diamati adalah sebanyak 6
indikator dan setiap indikator memiliki
3 deskriptor. Adapun cara pensekoran sebagai berikut:
a) Skor
1 diberikan jika X ≤ 25 %
b) Skor
2 diberikan jika 25% < X ≤ 50 %
c) Skor
3 diberikan jika 50 % < X ≤ 75 %
d) Skor
4 diberiksn jika X > 75 %
Keterangan: X = jumlah
siswa dalam kelas yang cukup aktif melakukan kegiatan menurut descriptor.
3. Menentukan
Rentang Nilai
Membagi SD
dan K = 2,8 (ketetapan)
Rentang
Skor =
x 1,2 SD
Contoh =
x
1,2 = 1,2 SD
Table 2
|
No.
|
Rentang Skor
|
Nilai
|
Kategori
|
|
1.
|
K
+ 1,2 SD
|
A
|
Sangat
aktif
|
|
2.
|
K
+ 0,9 SD Sampai K + 1,05 SD
|
B
|
Aktif
|
|
3.
|
K +
0,6 SD Sampai K + 0,75 SD
|
C
|
Cukup
aktif
|
|
4.
|
K - 0,
3 SD Sampai K + 0,42 SD
|
D
|
Kurang
aktif
|
|
5
|
<
2,5 SD
|
E
|
Sangat kurang
aktif
|
4.
Refleksi
Refleksi
dilakukan pada tahap akhir siklus. Pada tahap ini peneliti, guru, dan teman
sejawat mengkaji pelaksanaan dan hasil yang diperoleh dalam pemberian tindakan
tiap siklus. Refleksi dilakukan dari data kualitatif sebagai dasar untuk
memperbaiki serta menyempurnakan tindakan pada siklus berikutnya.
H.
Indikator
Penelitian
Adapun yang menjadi indikator dalam penelitian ini
dikatakan berhasil adalah apabila:
1. Aktivitas
siswa minimal berkategori cukup aktif
2. Tercapai
kelulusan hasil belajar siswa dengan ketentuan, minimal 45% siswa memperoleh
nilai ≥ 50.
Lampiran
I
LEMBAR
KERJA SISWA
Submateri : Volume Bangun Ruang
Tujuan : Siswa dapat mengenal nama-nama
bangun ruang dan bentuknya serta mampu
menentukan volume-volume pada bangun ruang tersebut.
Lanagkah
kerja:
1. Perhatikan
gambar bangun-bangun ruang berikut!
Gambar
I Gambar II Gambar III
2.
Tentukan nama-nama tersebut diatas dan
sebutkan sifat-sifatnya!
3.
Tentukan volume-volume dari bangun
diatas apabila :
a.
Tabung memiliki tinggi 20 dan luas
alasnya: 80..??
b.
c.
Kubus memiliki sisi 10?
d.
Tabung memiliki panjang: 8, lebar:
6 dan tinggi; 5?
4. Tulislah
hasil kerja kalian dan peresentasikan di depan kelas
Lampiaran
II
LEMBAR
OBSERVASI AKTIVITAS GURU
Petunjuk pengisian: Berikan (√ ) untuk setiap
descriptor yang Nampak
Cara penilaian:
BS (Baik Sekali) :
Jika semua (3) deskriptor yang nampak
B (Baik) :
Jika (2) descriptor yang nampak
C (Cukup) :
Jika (1) descriptor yang nampak
K (Kurang) :
Jika (0) tidak ada descriptor yang nampak
|
No
|
INDIKATOR/DESKRIPTOR
|
Ya
|
Tidak
|
Penilaian
|
|||
|
BS
|
B
|
C
|
K
|
||||
|
1.
|
Perencanaan dan persiapan
penyelenggaraan pembelajaran
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a.
Membuat skenario pembelajaran
|
|
|
|
|||
|
b.
Menyiapkan tes/soal untuk identifkasi pengetahuan
awal siswa
|
|
|
|||||
|
c.
Mengecek kehadiran siswa
|
|
|
|||||
|
2.
|
Pemberian motivasi dan apersepsi
kepada siswa
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a.
Menyampaikan pokok dan tujuan pembelajaran
|
|
|
|
|||
|
|
b. Memberikan
apersepsi kepada siswa
|
|
|
||||
|
|
c.
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
atau menjawab pertanyaan guru yang berkaitan dengan apersepsi
|
|
|
||||
|
3.
|
Pengaturan kegiatan kelompok
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a.
Membentuk kelompok kecil untuk berdiskusi
|
|
|
|
|||
|
|
b.
Menjelaskan tugas dan batasan waktu kegiatan tes
|
|
|
||||
|
|
c.
Membagikan LKS
|
|
|
||||
|
4.
|
Membimbing siswa dalam kegiatan
diskusi kelompok
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a.
Mendatangi setiap kelompok untuk memfasilitasi
kegiatan
|
|
|
|
|||
|
|
b.
Mengarahkan kegiatan diskusi dan memberikan
masukan terhadap kegiatan diskusi
|
|
|
||||
|
|
c.
Membimbing siswa mempersiapkan hasil diskusi
|
|
|
||||
|
5.
|
Pemberian umpan balik terhadap hasil
diskusi siswa
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a.
Meminta salah satu siswa menyampaikan hasil diskusinya
|
|
|
|
|||
|
|
b.
Memberikan siswa lain menanggapi dan bertanya
|
|
|
||||
|
|
c.
Memberikan komentar terhadap hasil diskuinya
|
|
|
||||
|
6.
|
Mengahiri/menutup pelajaran
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a.
Melakukan Tanya jawab dengan siswa untuk menarik
kesimpulan dari materi yang telah dipelajari
|
|
|
|
|||
|
|
b.
Menginformasikan materi pelajaran yang akan
dibahas minggu berikutnya
|
|
|
||||
|
|
c.
Meminta siswa untuk mempelajari materi yang telah
diberikan
|
|
|
||||
Komentar / saran :
Hari
/tanggal,
Observer
Lampiran
3
LEMBAR
OBSERVASI AKTIVITAS SISWA
Petunjuk pengisian : berilah tanda (√ )
untuk skor yang diproleh tiap descriptor.
Cara pebgisian :
Skor 1 diberikan jika X ≤ 25 %
Skor 2 diberikan jiks 25 % < X ≤ 50 %
Skor 3 diberikan jika 50 % < X ≤ 75 %
Skor 4 diberikan jika X > 75 %
Keterangan: X = jumlah siswa dalam kelas
yang aktif melakukan kegiatan descriptor
|
No
|
INDIKATOR/DESKRIPTOR
|
SKOR
|
Rata-rata
|
|||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|||
|
1.
|
Kesiapan siswa menerima materi
pelajaran
|
|
||||
|
a.
Siswa masuk tepat waktu
b.
Siswa membawa buku pelajaran yang relevan dengan
materi
c.
Siswa duduk dengan rapi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|||
|
2.
|
Antusias siswa mengikuti pembelajaran
|
|
||||
|
a.
Siswa memperhatikan pelajaran dengan seksama
selama proses pembelajaran
b.
Siswa mencatat poin penting dalam materi pelajaran
c.
Siswa tidak mengerjakan pekerjaan lainnya
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|||
|
3.
|
Kerja secara individual
|
|
||||
|
|
a.
Adanya pembagian tugas individu
b.
Melakukan Tanya jawab dan komunikasi antar
individu
c.
Melakukan Refleksi terhadap tugas yang diberikan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
||
|
4.
|
Aktivitas siswa dalam mengerjakan LKS
|
|
||||
|
|
a.
Mengerjakan LKS sesuai dengan permasalahan yang
diberikan
b.
Mengerjakan LKS dan perintah dengan teliti
c.
Mengerjakan semua item LKS sampai selesai
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
||
|
5.
|
Interaksi siswa dengan guru
|
|
||||
|
|
a.
Memperhatikan penjelasan guru pada saat
membimbing
b.Melakukan
Tanya jawab atau mengemukakan pendapat pada saat diberikan bimbingan oleh
guru
c.
Melakukan
Tanya jawab dengan guru untuk menyimpulkan hasil belajar
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
||
|
6.
|
Aktivitas siswa dalam menyimpulkan
hasil pembelajaran
|
|
||||
|
|
a.
Menyimpulkan hasil dengan baik
b.
Menanggapi atau menanyakan hal yang kurang jelas
c.
Memperbaiki kekeliruan temannya dalam menjawab
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
||
|
Jumlah
skor indikator
|
|
|||||
|
Criteria
|
|
|||||
Komentar / saran :
Hari
/ tanggal,
Observer
DAFTAR
PUSTAKA
Nana sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004
Wina senjaya. Pembelajaran dalam implementasi Kurikulum
Berbasis Kompetensi. Bandung: Kencana Media Group, 2005.
.. .Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar
Proses Pendidikan. Bandung: Kencana Prenada Media, 2006.
. . Perencanaan
dan Desain Pembelajaran. Bandung : Kencana Prenada Media Group, 2008.
. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Gorup, 2010
Kendiknas. Permen No. 22, Tahun 2006 tentang Standar isi.
Jakarta: Kemendiknas, 2006.
Chaedar
Alwasilah. Contextual Teaching and
Learning. Bandung: MLC, 2007
Suharsimi Arikunto, dkk. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT.
Bumi Aksara. 2009
Purwanto. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta:
Puastaka Belaja. 2011
Tim Pengembang MKDP. Kurikulum
dan Pembelajaran. Bandung: Kencana Prenada Media Gorup, 2011
Mahmud. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:
Pustaka Setia. 2011
Martinis yamin
dkk. Manajemen
Pembelajaran Kelas. Jakarta: GP Press, 2012.
Syaiful Sagala. konsep
dan Makna Pembelajaran. Bandung :
Alfabeta, 2012.
Rusman. Model-model Pembelajaran. Bandung: PT. RajaGrafindo, 2012.
Heruman,
Model Pembelajaran Matematika, (Bandung
: PT. Rosdakarya), 2013
Adi
Prastowo. Pengembangan Bahan Ajar Tematik. yogyajarakta: Diva Press, 2013.
Miftahul Huda. Model-model
Pengajaran dan Pembelajaran. Malang:
Pustaka Pelajar, 2014.
Tim Dosen PGMI. Pembelajaran KewarganegaraanMI. Mataram
: IAIN, 2014.
Fauzan A. Mahanani, “keunggulan
dan kelemahan pemeblajaran CTL”, dalam http://www.m-edukasi.web.id/2014/08/keunggulan-dan-kelemahan-pembelajaran.html. diambil tanggal 04 Desember 2014, pukul 12.15 wita.
Alvazghany, “Model pembelajaran
Konstruktivisme”, dalam http://konstruktivisme3fmatematika.blogspot.com/2012/12/menerapkanmetode-pembelajaran.html
diambil
tanggal 09 Desember 2014, pukul 10.16
[1] Miftahul Huda, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran,
(Malang: Pustaka Pelajar, 2014), h. 2
[3]
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung
: Alfabeta, 2012), h. 13
[5] ibid, h. 66.
[6]Syaiful, Konsep………., h. 61.
[7]
Wina Senjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Bandung:
Kencana Prenada Media Gorup, 2010), h. 197
[8] Ibid, h. 197.
[9] Ibid, h. 199.
[10] Ibid, h. 200.
[11] Ibid, h. 201.
[12] Wina senjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar
Proses Pendidikan, (Bandung: Kencana Prenada Media, 2006), h. 58
[13]
Tim Pengembang MKDP, Kurikulum dan Pembelajaran, (Bandung :
Rajawali Pers, 2011), h. 48
[14] Ibid, h. 56.
[15]
Ibid, h. 53.
[16] Tim Dosen PGMI, Pembelajaran KewarganegaraanMI, (Mataram
: IAIN, 2014), h. 42
[18] Nana sudjana, Penilaian Hasil Belajar, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2004), h. 22
[19]
Tim Pengembang, Kurikulum…………, h. 140.
[20]
Martinis
yamin dkk, Manajemen Pembelajaran Kelas,
(Jakarta: GP Press, 2012), h. 76
[21] Wina senjaya, Pembelajaran dalam implementasi Kurikulum
Berbasis Kompetensi, (Bandung: Kencana Media Group, 2005), h. 109
[22] Elaine B. Jonhson, Contextual Teaching and Learning,
(Bandung : MLC, 2007), h. 67
[23] Prastowo, Pengembangan………, h. 85.
[24] Jonhson, Contextual………., h. 64.
[25] Ibid, h.18.
[26]
Prastowo, Pengembangan………, h. 85.
[27] Syaiful, konsep…………….., h. 87.
[28]Fauzan A. Mahanani, “keunggulan
dan kelemahan pemeblajaran CTL”, dalam http://www.m-edukasi.web.id/2014/08/keunggulan-dan-kelemahan-pembelajaran.html. diambil tanggal
04 Desember 2014, pukul 12.15 wita
[29] Prastowo, Pengembangan………., h. 86.
[30] Rusman, Model-model Pembelajaran, (Bandung: PT. RajaGrafindo, 2012 ), h.
193
[31] Wina, Pembelajaran…………….., h. 118.
[32] Alvazghany, “Model pembelajaran Konstruktivisme”, dalam http://konstruktivisme3fmatematika.blogspot.com/2012/12/menerapkanmetode-pembelajaran.html diambil tanggal 09 Desember 2014, pukul 10.16
[33]
Heruman, Model Pembelajaran Matematika, (Bandung
: PT. Rosdakarya),2013, h. 1
[34]
Kendiknas, Permen No. 22, Tahun 2006 tentang Standar
isi, (Jakarta: Kemendiknas, 2006), h. 458
[35] Ibid, h. 459
[38]
Wina senjaya, Perencanaan dan Desain Pembelajaran, (Bandung
: Kencana Prenada Media Group, 2008), h. 56
[39] Ibid, h. 56
[40]
Suharsimi Arikunto, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta :
PT. Bumi Aksara, 2009), h. 24
[41] sukidin, dkk, Manajemen Penelitian Tindakn Kelas, (Surabaya
: Insan Cendekia , 2007), h. 16.
[42]
Suharsimi, penelitian………….,h. 16
[43]
Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung:
Pustaka Setia, 2011), h. 168
[44] Ibid, h. 185.
[46] Ibid, h. 202.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar